Jumat, 06 Juli 2012

BILA KATA TAK DIBERI ARTI

Cara untuk mengukur kelemahan Menurut salah satu mantan presiden amerika yaitu Abraham Lincoln salah satu cara untuk mengukur atau mengetahui kelemahan seseorang dia harus menjadi seorang pemimpin, karena dengan begitu orang-orang yang dipimpinnya tentu melakukan pengawasan, kritikan, serta cacian maupun saran baik melihat dari segi sifat atau kelakuannya, maupun dalam setiap pengambilan keputusan sehingga seorang pemimpin tersebut mengetahui kelemahan-kelemahan yang selama ini dimilikinya namun tidak atau belum diketahui sebelumnya. Namun, lagi-lagi tidak semua orang mau dan siap untuk dikritisi dan bahkan parahnya untuk kalangan mahasiswa sendiri. Inikah wajah mahasiswa saat ini. Saya tidak akan berbicara banyak mengenai teori kepemimpinan maupun teori lainya, dan saya bukanlah orang yang paling sempurna sehingga mengkritisi persoalan kepemimpinan dalam lembaga kemahasiswaan tetapi hanya berusaha mengungkapkan apa yang selama ini saya lihat dalam dunia lembaga kemahasiswaan dengan adanya mahasiswa yang mengetahui segudang teori dan dikoar-koarkan, ternyata belum manpu untuk dipahami atau bahkan diaplikasikan oleh diri sendiri. Terkadang mahasiswa dengan gagah beraninya mengkritisi kebijakan-kebijakan birokrasi kampus maupun pemerintah namun nyatanya takut dikritisi oleh teman sesama mahasiswa sendiri dengan bukti bahwa ketidakberaniannya untuk menjadi seorang pemimpin lembaga kemahasiswaan. Hilangnya keberanian Akhir-akhir ini miris melihat kondisi kelembagaan mahasiswa. Dalam proses pengaderan kita selalu ditanamkan untuk memiliki jiwa kepemimpinan dan siap setiap saat jika dibutuhkan organisasi dan ini menjadi nyanyian surgawi mahasiswa (baca senior) ketika berhadapan degan mahasiswa baru (baca junior). Namun, hal yang sangat kontradiktif terjadi misalnya ketika diadakan kompetisi dalam pemilihan pemimpin lembaga kemahasiswaan. Mahasiswa yang tadinya berkoar-koar dan bahkan berbusa-busa mulutnya dengan nyayian surgawinya untuk bagaimana mahasiswa baru punya keberanian untuk menjadi pemimpin ternyata menghindar yang semakin menpertegas bahwa nyalinya kurang atau malah hilang dan bahkan parahnya malah bersembunyi dibalik opini-opini nya. ‘’Saya belum siap atau saya sibuk, berikan kesempatan kepada yang lain dan sederet alasan lain yang menjadi opini-opini pembenaran yang sering kita dengar untuk menghindar dari pencalonan nya sebagai pemimpin lembaga kemahasiswaan. Pertanyaan mendasar adalah mengapa seorang mahasiswa sekali lagi dengan gagah berani dan penuh percaya dirinya ‘’memberaki’’ telinga mahasiswa baru namun toh kenyataannya mereka sendiri yang tidak manpu untuk menbuktikan ucapannya. Tantangan berorganisasi dan menjadi pemimpin lembaga kemahasiswaan Tentu sebagai seorang mahasiswa terutama yang sudah melalui beberapa tahun di kampus dan banyak belajar di organisasi, tentu mengetahui atau paling tidak pernah mendegar betapa susahnya perjuangan mahasiswa pada zaman orde baru dibawah pimpinan Presiden Soeharto dalam mengekspresikan segala saran atau kritikan terhadap kebijaka-kebijakan yang diambilnya. NKK atau Normalisasi Kehidupan Kampus pernah menjadi sebuah kebijakan yang diambil oleh presiden pada zaman Orde baru. Mahasiswa yang baik adalah mahasiswa yang tahunya hanya belajar tanpa harus mengurusi atau mengkritisi kebijakan pemerintah. Tidak dibolehkan untuk belajar berorganisasi dalam kampus dalam hal ini kebebasan berbicara, berkumpul dan berekspresi itu sangat dibatasi dan parahnya bias diculik dan diadili secara sepihak jika melanggar. Tantangan yang dialami oleh mahasiswa orde baru sangat keras oleh pemerintah, sebagian merasa takut untuk berorganisasi atau bahkan malah kucing-kucingan dalam berorganisi, namun betapa pun susahya untuk beroganisasi dalam kampus toh nyatanya bisa dan bahkan pada saat itu semua mahasiswa berlomba-lomba untuk menjadi pemimpin lembaga Dewan Mahasiswa (DEMA) dan majelis mahasiswa adalah lembaga kemahasiswaan tingkat universitas. Dewan mahasiswa ini sangat independen, dan merupakan kekuatan yang cukup diperhitungkan sejak Indonesia merdeka hingga masa Orde Baru berkuasa. Ketua dewan mahasiswa selalu menjadi kader pemimpin nasional yang diperhitungkan pada jamannya. Sekarang dengan tidak adanya tekanan yang berarti dari pemerintah dengan melihat perbandinganya pada zaman orde baru dan dengan adanya pasal dalam Pasal 28E ayat (3) dengan bunyinya bahwa “Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul dan mengeluarkan pendapat’’. justru tingkat kemauan sesorang untuk menjadi pemimpin dalam lembaga mengalami degradasi. Menberi arti pada kata Saya tidak ingin menyalahkan teman-teman mahasiswa namun justru ingin menyadarkan bahwa kita harus mampu untuk menbuktikan apa yang selama ini kita dengung-dengungkan dalam bentuk doktrinisasi ke mahasiswa baru, Jangan sampai kata tak diberi arti. Memang tidak setiap orang punya jiwa kepemimpinan yang kuat seperti misalnya Soekarno dengan kharismatiknya dengan kemampuan berbicara dan menulis yang sama kuatnya, namun paling tidak kita berani untuk menjadi seorang pemimpin karena seperti apa yang pernah dikatakan Soe Hok Gie dalam potongan puisinya ‘’ hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda Tanya…’’ Kita tidak tahu apa yang akan terjadi tetapi kita harus berani menghadapinya begitulah interpretasi saya terhadap potongan puisi Gie ini dan jika kita gali lebih jauh dalam agama dikatakan kita adalah pemimpin dalam muka bumi ini dan pemimpin minimal untuk diri kita sendiri, jadi tidak ada alasan untuk menghindar untuk menjadi pemimpin lembaga kemahasiswaan. Akhirya semoga dengan memberi arti pada setiap kata-kata kita, api semangat untuk menjadi pemimpin kelembagaan yang mulai menurun dapat dikobarkan kembali. Hidup mahasiswa…!!!