si aku berdiri kokoh beristanah megah
setiap pagi melempar sisa-sisa kepada dia
si aku berdiri bertolak pinggang
telunjuk berperintah.
si aku berdiri.berdiri.berdiri
di atas. si dia hanya bisa duduk
menadah tangan bak anjing tunggu jatah tulang.
si dia duduk hanya terkaku bengong bodoh
tunggu si aku lempar tulang dari istana megah nya.
“Syarat untuk menjadi penulis ada tig, yaitu: menulis, menulis, menulis”. [Kuntowijoyo]
Kamis, 28 April 2011
Senin, 11 April 2011
KAMI MAU UNTUK BISA
Kami bisa !
Kami manpu!
Dan mau kami buktikan !
Anjing-anjing itu selalu mengonggong
Bak kami mengambil tulang jatah makannya.
Anjing –anjing itu selalu menggertak kami
Berusaha untuk melukai kami.
Kami memang harus meranggkak
Tapi kami rela,
Kami memang harus jalan tertatih
Tapi kami mau,
Kami mau melewati itu semua .
Kami manpu!
Dan mau kami buktikan !
Anjing-anjing itu selalu mengonggong
Bak kami mengambil tulang jatah makannya.
Anjing –anjing itu selalu menggertak kami
Berusaha untuk melukai kami.
Kami memang harus meranggkak
Tapi kami rela,
Kami memang harus jalan tertatih
Tapi kami mau,
Kami mau melewati itu semua .
Minggu, 10 April 2011
GADIS MANIS YANG TAK BERNAMA
Setiap orang yang menatapnya akan terpesona,jantung berdetak lebih cepat dan mata seakan tidak mau berkedip. Begitulah yang dialami si abdul, pria pendiam asal pinrang. Rambut hitam sebahu, mata bulat,dengan baju tertutup sampai di lengan dengan celana panjang sampai mata kaki berjalan tepat di hadapannya.
Wajah putih gadis manis itu mencerahkan pagi yang dingin masih bergerimis itu dan sekaligus mencerahkan hati abdul. Tangan putihnya sedang asik memegang payung putih kecil yang hanya muat untuk satu orang. ‘’ ini bidadari yang sedang tersesat di bumi atau sengaja diturunkan untuk bertemu dengan ku’’. Tanya abdul dalam hatinya.
Si abdul ingin berkenalan dengan gadis manis itu, sekalipun hanya sekedar menanyakan namanya. Namun, badannya seakan menbatu, mulutnya seakan tertutup rapat tak manpu berucap satu katapun. Gadis manis itu akhirnya berlalu pergi.
Suatu sore angin berhembus sepoi-sepoi, abdul ingin pulang kerumah yang tidak jauh dari kampus tempat kuliah. Tiba-tiba pandangan abdul tertuju pada seorang gadis yang sedang berjalan sendiri menyusuri jalan setapak yang ada di sekitar danau. Abdul menperhatikan dengan seksama setiap detail gadis yang dilihatnya itu dan akhirnya yakin kalau gadis itu adalah gadis manis berpayung putih yang pernah dilihatnya di kampus. Abdul mengumpulkan segenap sisa keberaniannya dan menghampiri gadis itu.
Dengan sedikit terbata-bata abdul bertanya pada si gadis.
‘’Hay.. mmmau ke mmmana’’?
‘’Pulang ke rumah’’ jawab si gadis.
‘’Ini kesempatan langka dan sangat berharga dan tidak boleh disia-siakan’’, kata abdul dalam hati.
Kali ini abdul bertanya dengan lebih berani.
‘’Boleh aku antar pulang’’
‘’hmm.. nda usah. Rumah saya dekat dari sini kok.’’.jawab si gadis dengan malu-malu.
Abdul tak menyerah, dia menbujuk gadis itu dan akhirnya gadis itu merasa tidak enak untuk menolak tawaran abdul.
Iya dech..!!!
Betapa bahagianya hati si abdul mendengar jawaban itu, hatinya bak anak kecil dapat mainan baru dari ibunya, bak burung yang dilepas dari sangkarnya, dan seakan jiwanya melayang-layang di surga firdaus.
Ahkirnya abdul mengantar gadis itu pulang ke rumahnya. Di jalan, si abdul berusaha mencairkan suasana dan membom-bardir si gadis dengan beribu pertanyaan. Seakan dia ingin mengetahui gadis ini lebih dalam dan lebih dalam lagi. Suasana hati abdul begitu indah bagai dunia miliknya sendiri dan yang lain Cuma ngontrak.
Tiba-tiba gadis itu menyela pertanyaan abdul yang begitu banyak.
‘’Rumah putih dengan pagar putih itu ya’’..!
Suaranya terdengar merdu.
Motor si Abdul berhenti dengan perlahan.
‘’Oow.. ini rumah kamu ya’’?
Tanya si abdul.
Iya. Makasih ya uda ngantar aku.
Jawab si gadis sambil berlalu.
Ah… bodohnya aku, kenapa aku lupa tanya namanya ya…!
Si abdul memarahi dirinya sendiri.
Setelah hari itu si abdul tidak pernah lagi melihat gadis itu di kampus. Hari-hari dilalui si abdul dengan begitu menbosankan. Setelah lelah berkuliah seharian di kampus abdul pulang ke rumah. Abdul mengambil gelas kaca dan menuangkan air kedalam gelas kaca itu dan secara perlahan-lahan diminum air putih itu sambil menyetel televisi yang sudah agak tua.
Seorang pembawa berita menyampaikan sebuah berita , seorang pria kaya raya menikahi seorang gadis.
Waktu seakan berhenti sejenak. Gelas kaca yang dipegang si abdul terjatuh ke lantai, pecah berkeping-keping. Di gosok-gosoknya lagi mata si abdul takut kalau matanya sedang salah lihat. Di cubitnya tanganya jangan sampai dia hanya sedang bermimpi buruk dan belum sempat bangun.
Tetapi, ternyata itu memang bukan mimpi dan bukan salah lihat. Sang pengusaha kaya raya itu menikahi gadis manis yang belum sempat diketahui namanya oleh si abdul.
by. ukie poetra abdoeh
Wajah putih gadis manis itu mencerahkan pagi yang dingin masih bergerimis itu dan sekaligus mencerahkan hati abdul. Tangan putihnya sedang asik memegang payung putih kecil yang hanya muat untuk satu orang. ‘’ ini bidadari yang sedang tersesat di bumi atau sengaja diturunkan untuk bertemu dengan ku’’. Tanya abdul dalam hatinya.
Si abdul ingin berkenalan dengan gadis manis itu, sekalipun hanya sekedar menanyakan namanya. Namun, badannya seakan menbatu, mulutnya seakan tertutup rapat tak manpu berucap satu katapun. Gadis manis itu akhirnya berlalu pergi.
Suatu sore angin berhembus sepoi-sepoi, abdul ingin pulang kerumah yang tidak jauh dari kampus tempat kuliah. Tiba-tiba pandangan abdul tertuju pada seorang gadis yang sedang berjalan sendiri menyusuri jalan setapak yang ada di sekitar danau. Abdul menperhatikan dengan seksama setiap detail gadis yang dilihatnya itu dan akhirnya yakin kalau gadis itu adalah gadis manis berpayung putih yang pernah dilihatnya di kampus. Abdul mengumpulkan segenap sisa keberaniannya dan menghampiri gadis itu.
Dengan sedikit terbata-bata abdul bertanya pada si gadis.
‘’Hay.. mmmau ke mmmana’’?
‘’Pulang ke rumah’’ jawab si gadis.
‘’Ini kesempatan langka dan sangat berharga dan tidak boleh disia-siakan’’, kata abdul dalam hati.
Kali ini abdul bertanya dengan lebih berani.
‘’Boleh aku antar pulang’’
‘’hmm.. nda usah. Rumah saya dekat dari sini kok.’’.jawab si gadis dengan malu-malu.
Abdul tak menyerah, dia menbujuk gadis itu dan akhirnya gadis itu merasa tidak enak untuk menolak tawaran abdul.
Iya dech..!!!
Betapa bahagianya hati si abdul mendengar jawaban itu, hatinya bak anak kecil dapat mainan baru dari ibunya, bak burung yang dilepas dari sangkarnya, dan seakan jiwanya melayang-layang di surga firdaus.
Ahkirnya abdul mengantar gadis itu pulang ke rumahnya. Di jalan, si abdul berusaha mencairkan suasana dan membom-bardir si gadis dengan beribu pertanyaan. Seakan dia ingin mengetahui gadis ini lebih dalam dan lebih dalam lagi. Suasana hati abdul begitu indah bagai dunia miliknya sendiri dan yang lain Cuma ngontrak.
Tiba-tiba gadis itu menyela pertanyaan abdul yang begitu banyak.
‘’Rumah putih dengan pagar putih itu ya’’..!
Suaranya terdengar merdu.
Motor si Abdul berhenti dengan perlahan.
‘’Oow.. ini rumah kamu ya’’?
Tanya si abdul.
Iya. Makasih ya uda ngantar aku.
Jawab si gadis sambil berlalu.
Ah… bodohnya aku, kenapa aku lupa tanya namanya ya…!
Si abdul memarahi dirinya sendiri.
Setelah hari itu si abdul tidak pernah lagi melihat gadis itu di kampus. Hari-hari dilalui si abdul dengan begitu menbosankan. Setelah lelah berkuliah seharian di kampus abdul pulang ke rumah. Abdul mengambil gelas kaca dan menuangkan air kedalam gelas kaca itu dan secara perlahan-lahan diminum air putih itu sambil menyetel televisi yang sudah agak tua.
Seorang pembawa berita menyampaikan sebuah berita , seorang pria kaya raya menikahi seorang gadis.
Waktu seakan berhenti sejenak. Gelas kaca yang dipegang si abdul terjatuh ke lantai, pecah berkeping-keping. Di gosok-gosoknya lagi mata si abdul takut kalau matanya sedang salah lihat. Di cubitnya tanganya jangan sampai dia hanya sedang bermimpi buruk dan belum sempat bangun.
Tetapi, ternyata itu memang bukan mimpi dan bukan salah lihat. Sang pengusaha kaya raya itu menikahi gadis manis yang belum sempat diketahui namanya oleh si abdul.
by. ukie poetra abdoeh
KU HANYA BISA MELIRIK
Matahari terang bersinar di hari yang gersang
Angin enggan bertiup kencang
Tetapi bunga-bunga begitu tenang.
Kulihat ada satu bunga yang begitu cantik
Menbuat hati ingin melirik
Dan tangan ingin memetik
Tetapi bunga itu punya siapa?
Tidakkah nanti yang punya akan marah?
Ataukah memang dia bukan punya siapa-siapa
Yang bisa dipetik siapa saja.
Kalau tidak ada penjaganya
Kenapa tidak ada yang memetik
padahal bunga itu begitu cantik
ataukah sudah banyak yg mau memetik
namun dia masih enggan dipetik.
Akankah ia menunggu untuk kupetik?
Padahal aku merasa belum bisa untuk memetik
dan hanya bisa untuk melirik.
By:Ukie poetra abdoeh
Angin enggan bertiup kencang
Tetapi bunga-bunga begitu tenang.
Kulihat ada satu bunga yang begitu cantik
Menbuat hati ingin melirik
Dan tangan ingin memetik
Tetapi bunga itu punya siapa?
Tidakkah nanti yang punya akan marah?
Ataukah memang dia bukan punya siapa-siapa
Yang bisa dipetik siapa saja.
Kalau tidak ada penjaganya
Kenapa tidak ada yang memetik
padahal bunga itu begitu cantik
ataukah sudah banyak yg mau memetik
namun dia masih enggan dipetik.
Akankah ia menunggu untuk kupetik?
Padahal aku merasa belum bisa untuk memetik
dan hanya bisa untuk melirik.
By:Ukie poetra abdoeh
Langganan:
Komentar (Atom)